Langsung ke konten utama

MEDIA PEMBELAJARAN

 

NAMA : ROZACKY HANISDHA SUBAGIO

NIM : 11901055

KELAS: PAI 4/A

DOSEN PENGAMPU : FARNINDA ADITIYA, M. Pd.

MATA KULIAH : MAGANG 1

 

MEDIA PEMBELAJARAN

 

A.    Pengertian Media Pembelajaran

Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata  “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar” Kata “media” berasal  dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah  berarti “perantara atau pengantar”. Media pembelajaran yaitu sebagai perantara atau pengantar pesan dari  pengirim ke penerima agar penerima mempunyai motivasi untuk belajar sehingga  diharapkan dapat memperoleh hasil belajar yang lebih memuaskan, sedangkan bentuknya bisa bentuk cetak maupun non cetak.

Media pembelajaran mencakup semua peralatan fisik dan materi yang digunakan oleh instruktur, dosen, guru, tutor, atau pendidik lainnya dalam 6 melaksanakan pembelajaran dan menfasilitasi tercapainya tujuan pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud mencakup media tradisional yang terdiri atas kapur tulis, handaout, diagram, slide, overhead, objek nyata, dan rekaman video, atau film dan media mutakhir seperti komputer, DVD, CD-ROM, Internet, dan konferensi video interaktif (Scanlan: 1, 2012).

B.     Fungsi dan Peran Media Pembelajaran

Fungsi media pembelajaran, dapat ditekankan beberapa hal berikut ini.

a.       Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.

b.      Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.

c.       Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan komponen yang ingin dicapai dan pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada kompetensi dan bahan ajar.

d.      Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan. Dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian peserta didik semata.

e.       Media pembelajaran bias berfungsi untuk mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran pesrta didik dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.

f.       Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran . Pada umumnya hasil belajar peserta didik dengan menggunakan media pembelajaran akan lebih lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.

g.      Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir. Oleh karena itu, dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.

Selain fungsi-fungsi sebagaimana yang telah diuraikan di atas, media pembelajaran ini juga memiliki peran dan manfaat sebagai berikut.

a.       Membuat konkret konsep-konsep yang abstrak, Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung kepada peserta didik bisa dikonkretkan atau disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran. Misalnya untuk menjelaskan tentang sistem peredaran darah manusia, arus listrik, berhembusnya angin bisa menggunakan media gambar atau bagan sederhana

b.      Menghadirkan obyek-obyek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar. Misalnya, guru menjelaskan dengan menggunakan harimau dan beruang atau hewan-hewan lainnya, seperti gajah, jerapah, dinasaurus.

c.       Menampilkan obyek yang terlalu besar atau kecil. Misalnya, guru akan menyampaikan gambaran mengenai sebuah kapal laut, pesawat udara, pasar, candi, atau menampilkan obyek-obyek yang terlalu kecil, seperti bakteri, virus, semut, nyamuk atau hewan/benda kecil lainnya..

d.      Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat. Dengan menggunakan teknik gerakan lambat (slow motion) dalam media film kita memperlihatkan tentang lintasan peluru, melesatnya anak panah atau memperlihatkan suatu ledakan. Demikian juga gerakan-gerakan yang terlalu lambat seperti pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga wijaya kusumah.

 

C.    Klasifikasi Media Pembelajaran

Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam pengklasifikasian media pembelajaran . Penggolongan atau klasifikasi didasarkan atas pertimbangan dan ruang lingkup pengertian media menurut para ahli yang mengemukannya. Klasifikasi itu antara lain didasarkan atas bentuk dan cirri fisiknya, berdasarkan jenis dan tingkat pengalaman yang diperoleh, berdasarkan persepsi indra yang diperoleh, berdasarkan penggunaannya dan berdasarkan hirarki pemanfaatannya (Punaji, 2005).

Klasifikasi media didasarkan pada bentuk dan ciri fisiknya secara mendasar menbedakan media menjadi dua yaitu media dua dimensi dan media tiga dimensi .Media dua dimensi yaitu media yang penampilannya tanpa proyeksi dan ukurannya panjang kali lebar dan hanya bisa diamati dari satu arah pandang saja, contoh media ini adalah peta, gambar, bagan dan lain-lain. Sedangkan media tiga dimensi yaitu media yang penampilannya tanpa proyeksi, ukurannya panjang kali lebar kali tinggi serta dapat diamati dari arah pandang mana saja. Contoh media tiga dimensi adalah globe, model kerangka manusia dan lain-lain.

Klasifikasi media berdasarkan pengalaman secara sederhana dapat digolongkan kedalam tiga jenjang pengalaman yaitu (a) Pengalaman langsung yaitu pengalaman melalui keterlibatan langsung dalam suatu peristiwa atau mengamati kejadian atau obyek yang sebenarnya, (b) Pengalaman tiruan yaitu pengalaman yang didasarkan atas model, dramatisasi dan berbagai rekaman obyek atau kejadian, dan (c) Pengalaman dari kata-kata yaitu perkataan yang diucapkan, rekaman kata-kata dari media perekam dan kata-kata yang ditulis maupun yang dicetak. Klasifikasi berdasarkan persepsi indera menggolongkan media pembelajaran dalam tiga kelompok yaitu (a) media visual misalnya buku dan media grafis, (b) media audio misalnya radio, (c) media audio visual misalnya televisi dan film. Klasifikasi berdasarkan penggunaannya menggolongkan media dalam tiga bagian yaitu (a) media pembelajaran yang penggunaannya secara individual, (b) media pembelajaran yang penggunaannya secara kelompok, dan (c) media pembelajaran yang penggunaannya secara masal

Klasifikasi media melalui bentuk penyajian dan cara penyajiannya dapat diklasifikasikan ke dalam tujuh kelompok, yaitu (a) kelompok kesatu; grafis, bahan cetak, dan gambar diam, (b) kelompok kedua; media proyeksi diam, (c) kelompok ketiga; media audio, (d) kelompok keempat; media audio visual, (e) kelompok kelima; media gambar hidup/film, (f) kelompok keenam; media televisi, (g) kelompok ketujuh; multi media.

 

D.    Pemilihan Media Pembelajaran

Dalam penggunaannya, media pembelajaran tidak digunakan begitu saja oleh guru karena menurut Gagne (Gerlach & Elly, 1980) tidak ada satu mediapun yang mungkin paling cocok untuk mencapai semua tujuan. Media pembelajaran yang kita gunakan untuk satu tipe pokok bahasan akan berbeda dengan isi pokok bahasan yang lain. Untuk itu beberapa prinsip dalam memilih media akan sangat membantu guru dalam memilih dan mengunakan media yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran. Prinsip-prinsip pemilihan dan penggunaan media menurut Brown, Lewin & Harcleorad (Punaji, 2005 : 47) adalah sebagai berikut :

a.       Tidak ada satupun media, prosedur dan pengalaman yang paling baik untuk belajar.

b.      Percayalah bahwa penggunaan media itu sesuai dengan tujuan khusus pembelajaran.

c.       Anda harus mengetahui secara menyeluruh kesesuaian antara isi dan tujuan khusus program.

d.      Media harus mempertimbangkan kesesuaian antara penggunaannya dan cara pembelajaran yang dipilih.

e.       Pemilihan media itu sendiri janganlah tergantung pada pemilihan dan penggunaan media tertentu saja.

f.       Sadarlah bahwa media yang paling baikpun apabila tidak dimanfaatkan secara baik akan berdampak kurang baik atau media tersebut digunakan dalam lingkungan yang kurang baik.

g.      Kita menyadari bahwa pengalaman, kesukaan, minat dan kemampuan individu serta gaya belajar mungkin berpengaruh terhadap hasil penggunaan media.

h.      Kita menyadari bahwa sumber-sumber dan pengalaman belajar bukanlah hal yang berkaitan dengan baik dan buruk tetapi sumber dan pengalaman belajar ini berkaitan dengan hal yang kongkrit atau abstrak.

 

E.     Aplikasi Media dan Pemajangan Dalam Pembelajaran Agama Islam

 

1.      Aplikasi media grafis, bahan cetak, dan gambar diam dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Guru Pendidikan Agama Islam dapat mengaplikasikan media ini dengan membuat gambar atau memilih gambar-gambar yang tersedia melalui hasil browsing internet, atau koleksi foto-foto yang menggambarkan tentang proses pemeblajaran atau yang terkaita dengan materi ajar, misalnya untuk menunjjukan bagaimana posisi rukuk bagi orang yang sholat, gurtu PAI dapat memperlihatkan foto atau gambar orang yang sedang rukuk dalam sholat. Demikian juga untuk media grafis, guru PAI dapat menggunakan dalam memprediksi perkembangan Islam dari masa ke masa. Pada intinya penggunaan media ini dapat digunakan oleh guru PAI untuk materi apapun, yang terpenting adalah tergantung pada kreativitas guru-guru untuk menggunakan dan membuat media grafis, bahan cetak, dan gambar diam dalam pembelajaran PAI.

2.      Aplikasi media proyeksi diam dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Guru Pendidikan Agama Islam dapat mengaplikasikan media proyeksi diam ini dengan menuliskan poin-poin materi ke dalam transparant. Seluruh materi PAI dapat dibantu dengan media ini, namun guru harus memperhatikan tampilan transparan tersebut, apabila tampilan atau desainnya tidak menarik maka akan menimbulkan kejenuhan siswa dalam mengikuti pembelajaran.

3.      Aplikasi media audio dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Guru Pendidikan Agama Islam dapat membuat media audio ini dengan menggunakan tape recorder, handphone yang ada fitur rekaman, MP3 player, dan i-Pod sebagai alat perekam suara, atau menggunakan CD pembelajaran al-Quran yang sudah jadi yang banyak tersedia di pasaran. Penggunaan media audio ini dapat diimplementasikan pada pembelajaran membaca al-Qur’an, al-Hadits atau dialog dalam bahasa Arab. Media audio ini dapat diaplikasikan pada materi PAI dengan karakteristik tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik apabila dilakukan dengan cara mendengarkan. Salah satu contohnya adalah apabila guru-guru mengingkan pembelajaran dilakukan dengan cara drill, maka guru dapat menghidupkan hasil-hasil rekaman tersebut di dalam kelas untuk didegarkan siswa kemudia langsung ditirukan oleh mereka. Kelebihan penggunaan media tersebut adalah ketika drill dilaksanakan melalui media audio, pada saat itu pula guru dapat mengobservasi kelas dengan cara mengelilingi siswa-siswanya dan guru akan menemukan siswa yang kurang benar dalam melafalkan ayat atau hadist. Demikian juga untuk pembelajaran bahasa Arab, dengan dibantu media audio, guru dapat melatih pendengaran siswa dalam bahasa arab dengan menggunakan logat Arab.

4.      Aplikasi media audio video dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Guru Pendidikan Agama Islam dapat mengaplikasikan media audiovideo ini dengan menggunakan rekaman gambar dan suara dengan memakai alat sederhana seperti handycame, kamera digital, dan hand-phone kamera, kemudian hasil dari rekaman tersebut ditransfer dalam bentuk VCD yang dapat diputar di kelas. Kelebihan audiovideo ini apabila dibuat oleh guru PAI sendiri akan menghasilkan gambar dan suara yang dikehendaki oleh guru, karena guru kelas yang tahu bagaimana karakteristik sisws-siswa mereka, sehingga media audiovideo apa yang dikehendaki guru PAI dapat mendesainnya secara mandiri. Demikian juga bagi siswa-siswanya, apabila mereka ikut dilibatkan dalam pembuatan audiovideo tersebut mereka semakin bersemangat dalam belajarnya.Materi-materi PAI yang dapat dibuat dalam desain media audiovideo tidak terbatas, bahkan menurut hemat penulis, semua materi PAI dapat dibuatkan media audiovideonya, hal tersebut tergantung pada kreativitas guru dalam mendesain media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI :

·         http://digilib.uinsby.ac.id/6464/8/Bab%204.pdf

·         https://repository.unikama.ac.id/85/1/Media.pdf

·         http://repositori.uin-alauddin.ac.id/11788/1/MEDIA%20PEMBELAJARAN%20Pengertian%2C%20Fungsi%2C%20dan%20Urgensinya%20bagi%20Anak%20Milenial.pdf

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

  NAMA : ROZACKY HANISDHA SUBAGIO NIM : 11901055 KELAS: PAI 4/A DOSEN PENGAMPU : FARNINDA ADITIYA, M. Pd. MATA KULIAH : MAGANG 1   KOMPETENSI PROFESIONAL GURU   A.      Pengertian   Kompetensi Profesional Guru kompetensi adalah "pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya". Kompetensi merupakan kemampuan dan berwenangan guru dalam   melaksanakan profesi keguruannya. Sedangkan professional berasal dari kata profesi. Profesi sendiri mempunyai pengertian suatu pekerjaan yang memerlukan suatu keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Maka pengertian profesionalisme adalah "suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus". Dengan ...