NAMA : ROZACKY HANISDHA SUBAGIO
NIM : 11901055
KELAS: PAI 4/A
DOSEN PENGAMPU : FARNINDA ADITIYA, M. Pd.
MATA KULIAH : MAGANG 1
MANAJEMEN SEKOLAH
A.
Pengertian
Manajemen Berbasis Sekolah
Secara
Ontologis manajemen sekolah dan manajemen pendidikan mempunyai pengertian yang
sama. Masing-masing memiliki persamaan yang sulit untuk dibedakan. Secara
khususu ruang lingkup manajemen pendidikan juga merupkan ruang lingkup bidang
garapan manajemen sekolah. Demikian pula proses kerjanya melalui fungsi yang
sama pula.
Sebagaimana
yang dijelaskan oleh James Jr. (2007;14) yang memaparkan bahwa manajemen
sekolah adalah proses pemberdayaan Sumber Daya Manusia bagi penyelenggara
sekolah secara efektif. Sejalan dengan
James, Ali Imron Sauki (2014:104) secara
rijit berpendapat bahwa manajemen
pendidikan adalah proses penataan kelembagaan pendidikan, dengan melibatkan
sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat non manusia
guna mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Manajemen
akan dikatakan bagus apabila manajemen tersebut sejalan dengan konsep dan
program yang telah direncanakan mencapai keberhasilan lebih dari 95%. Oleh
sebab itu para pimpinan sekolah yang menjabat sebagai manajer di lingkungan
maupun unit masing-masing perlu mengusahakan manajemen dapat berjalan sesuai
dengan tujuan yang telah disepakati bersama. Jadi dapat disimpulkan bahwa
manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat
dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan.
Pengertian
Manajemen Sekolah bermutu terjemahan
dari “school-based management”. Manajemen Sekolah Bermutu merupakan paradigma baru pendidikan, yang
memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam
kerangka kebijakan pendidikan nasional. Secara umum, manajemen peningkatan mutu
berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan
otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan Kebijakan
partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (Pendidik,
Peserta didik, kepala sekolah, karyawan, orang tua peserta didik, dan
masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan
nasional.
B.
Prinsip
Manajemen Sekolah
a. Prinsip
Ekuifinalitas (Principle of Equifinality)
Prinsip
ini didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda
untuk mencapai suatu tujuan. Manajemen
Sekolah menekankan fleksibilitas sehingga sekolah harus dikelola oleh warga sekolah menurut kondisi mereka
masing-masing.
b. Prinsip
Desentralisasi (Principle of
Decentralization)
Desentralisasi
adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini
konsisten dengan prinsip ekuifinalitas.
Prinsip desentralisasi dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran
tak dapat dielakkan dari kesulitan dan
permasalahan. Pendidikan adalah masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi
dalam pelaksanaannya.
c. Prinsip
Sistem Pengelolaan Mandiri (Principle of Self-Managing System)
Prinsip
ini terkait dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Ketika sekolah
menghadapi permasalahan maka harus
diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah terjadi pelimpahan
wewenang dari birokrasi di atasnya ke
tingkat sekolah.
d. Prinsip
Inisiatif Manusia (Principle of Human Initiative)
Berdasarkan
perspektif ini maka Manajemen Sekolah bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga
sekolah agar dapat bekerja dengan baik
dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan
aspek sumber daya manusianya. Prinsip
ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya
yang statis, melainkan dinamis.
Menurut
Husaini Usman, Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan Manajemen Sekolah antara
lain sebagai berikut:
1)
Komitmen, kepala sekolah dan warga
sekolah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menggerakkan semua warga
sekolah untuk ber Manajemen Sekolah.
2)
Kesiapan, semua warga sekolah harus siap
fisik dan mental untuk ber Manajemen Sekolah.
3)
Keterlibatan, pendidikan yang efektif
melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
4)
Kelembagaan, sekolah sebagai lembaga
adalah unit terpenting bagi pendidikan yang efektif.
5)
Keputusan, segala keputusan sekolah
dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
6)
Kesadaran, guru-guru harus memiliki
kesadaran untuk membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan
kurikulum.
7)
Kemandirian, sekolah harus diberi
otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian
dana.
8)
Ketahanan, perubahan akan bertahan lebih
lama apabila melibatkan stakeholders sekolah.
C.
Karakteristik
Manajemen Sekolah
Di
Amerika Serikat, karakteristik baru ditemukan pada era reformasi pendidikan “generasi keempat”. Menurut Bailey
yang dikutip oleh Sudarwan Danim, berdasarkan
gerakan reformasi “generasi keempat” ini tersimpullah kerakateristik ideal manajemen berbasis sekolah dan
karakteristik ideal sekolah untuk abad ke-21 (school for the twenty-first characteristics),
seperti berikut ini.
a. Adanya
Keragaman dalam Pola Pengajian Guru
Istilah populernya adalah pendekatan
prestasi (Merit System) dalam hal
pengajian dan pemberian aneka bentuk kesejahteraan material
lainnya.
b. Otonomi
Manajemen Sekolah
Sekolah menjadi sentral utama manajemen
pada tingkat strategis dan. operasional
dalam kerangka penyelenggaraan program pendidikan dan pembelajaran.
c. Pemberdayaan
Guru secara Optimal
Dikarenakan sekolah harus berkompetisi
membangun mutu dan membentuk citra di masyarakat guru-guru harus
diberdayakan dan memberdayakan diri
secara optimal bagi terselenggaranya proses pembelajaran yang bermakna.
d. Pengelolaan
Sekolah secara Partisipatif
Kepala sekolah harus mampu bekerja
dengan dan melalui seluruh komunitas
sekolah agar masing-masing dapat menjalankan tugas pokok dan fungsi
secara baik dan terjadi transparansi
pengelolaan sekolah.
e. Sistem
yang Didesentralisasikan
Dibidang penganggaran misalnya,
pelaksanaan Manajemen Sekolah mendorong
sekolah-sekolah siap berkompetisi untuk mendapatkan dana dari masyarakat atau dari pemerintah secara
kompetitif (block grant) dan mengelola
dana itu dengan baik.
f. Sekolah
dengan Pilihan atau Otonomi Sekolah dalam Menentukan Aneka Pilihan.
Program akademik dan non akademik dapat
dikreasi oleh sekolah sesuai dengan
kapasitasnya dan sesuai pula dengan kebutuhan masyarakat lokal, nasional, atau global.
g. Hubungan
Kemitraan (Partnership) antara Dunia Bisnis dan Dunia Pendidikan
Hubungan kemitraan itu dapat dilakukan secara
langsung atau melalui Komite
Sekolah.
h.
Akses Terbuka bagi Sekolah untuk Tumbuh
Relatif Mandiri
Perluasan kewenangan yang diberikan kepada sekolah
memberi ruang gerak baginya untuk
membuat keputusan inovatif dan mengkreasi program demi peningkatan mutu sekolah.
i.
“Pemasaran” Sekolah secara
Kompetitif
Tugas pokok dan fungsi sekolah adalah menawarkan
produk unggulan atau jasa.
Karakteristik
sekolah yang melaksanakan Manajemen Sekolah di antaranya :
a) Proses
pembelajaran yang efektivitasnya tinggi
b) Kepemimpinan
sekolah kuat
c) Lingkungan
sekolah aman dan tertib
d) Pengelolaan
tenaga kependidikan efektif
e) Memiliki
budaya mutu
f) Memiliki
tim kerja yang kompak, cerdas, dan dinamis
g) Memiliki
kewenangan (kemandirian)
h) Partisipasi
tinggi dari warga sekolah dan masyarakat
i)
Memiliki keterbukaan (transparansi)
manajemen
j)
Memiliki kemauan untuk berubah
k) Melakukan
evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
l)
Sekolah responsif dan antisipatif
terhadap kebutuhan
m) Memiliki
komunikasi yang baik
n) Memiliki
akuntabilitas
o) Memiliki
kemampuan menjaga keberlanjutan
D.
Fungsi-Fungsi
Menajemen Fungsi
Manajemen
ialah berbagai jenis tugas atau kegiatan manajemen yang mempunyai peranan khas
dan bersifat saling menunjang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Fungsi-fungsi manajemen diantaranya dibagi menjadi enam macam
fungsi, yaitu:
1.
Perencanaan (Planning)
Perencanaan
merupakan tindakan awal dalam proses manajemen. Menurut Robbins (2011:16)
perencanaan adalah proses menentukan tujuan dan menetapkan cara terbaik untuk
mencapai tujuan dan menetapkan cara terbaik untuk mencapai tujuan. Mondy dan
Premeaux menjelaskan bahwa “Perencanaan adalah proses menentukan apa yang
seharusnya dicapai dan bagaimana mencapainya”.
2.
Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi
adalah berkumpulnya sejumlah orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Setelah rencana disusun oleh manajer atau kepala
sekolah dan tim, maka tugas selanjutnya adalah mengorganisir sumber daya
manusia dan sumber daya fisik, sehingga dapat termanfaatkan secara tepat.
Sedangkan
pengorganisasian (organizing) adalah proses di mana pekerjaan yang ada dibagi
dalam komponen-komponen yang dapat ditangani dan aktivitas mengkoordinasa
hasil-hasil yang akan dicapai sehingga tujuan yang ditetapkan dapat
tercapai.
Jadi
proses pengorganisasian adalah kegiatan menempatkan seseorang dalam struktur
organisasi sehingga memiliki tanggung jawab, tugas dan kegiatan yang berkaitan
dengan fungsi organisasi dalam pencapaian tujuan yang disepakati bersama
melalui perencanaan.
3. Menggerakkan (Actuating)
Menggerakkan
adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha
untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Sehingga dapat terlaksana dengan baik. Dalam konteks Actuating diperlukan kerja
praktis dan aksi nyata, tidak memerlukan konsep namun harus berjalan sesui
dengan perncanaan yang telah ditetapkan. Tidak itu saja Actuating juga akan
memberikan gambaran yang nyata bagi pengelola sampai dimana pelaksanaan secara
teknis kerja dan kinerja organisasi yang ada di sekolah untuk mencapai tujuan-tujuannya.
4. Kepemimpinan
(Leadership)
Mondy dan Premeaux (2012:65) menjelaskan
bahwa kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang
diinginkan pemimpin untuk mereka lakukan. Jadi kepemimpinan berkaitan dengan
kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempengaruhi orang lain, karena itu
intinya adalah hubungan antar manusia.
Gaya kepemimpinan paling tidak ada
empat, yaitu:
a) Pemimpin
Otokratik: menyuruh para bawahannya melakukan sesuatu dan diharapkannya tanpa
boleh ada pertanyaan.
b) Pemimpin
Partisipatif: selalu melibatkan bawahannya dalam pengambilan Pengambilan
Kebijakan tetapi otoritas akhirnya sering berada di tangan pimpinan.
c) Pemimpin
Demokratis: selalu mencoba memperhatikan dan melakukan apa yang diinginkan
kebanyakan bawahannya.
d) Pemimpin
yang Membebaskan Bawahan (Laissez Faire): pemimpin seperti ini cenderung tidak
melibatkan diri kepada pekerjaan-pekerjaan bawahan atau bagian. Biasanya gaya
pemimpin seperti ini hanya mungkin dilakukan mpeserta didikala staf atau
bawahannya yang ahli dan professional.
5. Pengawasan (Controlling)
Fungsi pengawasan mencakup semua
aktifitas yang dilaksanakan peserta didikan oleh manager dalam upaya memastikan
bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan peserta didikan.
Pengawasan
secara internal organisasi mencakup berbagai kegiatan yaitu:
a. Pengawasan
input: jumlah dan kualitas bahan-bahan, para anggota staf, peralatan, fasilitas
dan informasi yang dicapai oleh organisasi yang bersangkutan
b. Pengawasan
aktivitas/proses: yaitu penjadwalan dan pelaksanaan aktivitas, oprasional,
transformasi serta distribusi yang terjadi dalam organisasi
c. Pengawasan
out put: Pengawasan terhadap ciri-ciri out put yang diinginkan/ standar, out
put yang tidak diinginkan, (polusi, bahan buangan, sampah) dari organisasi yang
bersangkutan.
6. Penyusunan
(Staffing)
Penyusunan disini termasuk perekrutan
karyawan, pemanfaatan sarana dan prasarana, pelatihan, pendidikan dan
pengembangan sumber daya karyawan tersebut dengan efektif.
Jika manajemen pendidikan sudah tertata
dengan baik dan membumi, niscaya tidak akan lagi terdengar tentang pelayanan
sekolah yang buruk, minimnya profesionalisme tenaga pengajar, sarana-prasarana
tidak memadai, pungutan liar, hingga kekerasan dalam pendidikan. Semua itu juga harus didukung oleh kebijakan
pendidikan yang juga mengarah pada perkembangan mandiri di setiap sekolah.
E.
Tujuan
Manajemen Sekolah
Tujuan
manajemen sekolah menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah :
a) Meningkatkan
mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan
memberdayakan sumber daya yang tersedia.
b) Meningkatkan
kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
melalui pengambilan keputusan bersama.
c) Meningkatkan
tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu
sekolah.
d) Meningkatkan
kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.
Pakar
ilmu pendidikan menyatakan: Manajemen Sekolah bertujuan untuk memberdayakan sekolah, terutama sumberdaya
manusianya, seperti kepala sekolah, guru,
karyawan, siswa, orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya. Pemberdayaan sumberdaya manusia ini melalui pemberian
kewenangan, fleksibilitas, dan pemberian tanggung jawab untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan.
SUMBER
:
·
Nurdyasnyah, N., & Andiek, W.
(2017). Manajemen Sekolah Berbasis ICT. Sidoarjo: Nizamia learning center.
·
http://eprints.umsida.ac.id/1624/1/Manajemen%20Sekolah%20ICT%20Final.pdf
·
http://repository.radenintan.ac.id/144/5/Bab_II.pdf
Komentar
Posting Komentar