NAMA : ROZACKY HANISDHA SUBAGIO
NIM : 11901055
KELAS: PAI 4/A
DOSEN PENGAMPU :FARNINDA ADITYA, M. Pd.
MATA KULIAH : MAGANG 1
KULTUR SEKOLAH
A. Pengertian
Kultur Sekolah
Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa
Inggris yakni culture. Culture atau diterjemahkan budaya adalah serangkaian
aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga menjadi milik bersama dan dapat
diterima oleh masyarakat. Menurut
Koentjaraningrat (2003: 72) kebudayaan adalah seluruh
sistem gagasan dan
rasa, tindakan, serta
karya yang dihasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.
Kultur atau budaya adalah sesuatu kebiasaan
atau pola perilaku normatif yang merupakan hasil olah pikir, olah rasa, dan
cara bertindak. Salah satu ilmuwan yang banyak memberikan sumbangan penting
dalam hal ini adalah antropolog dari Amerika Serikat yakni Clifford Geertz.
Antropolog ini mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap
fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit.
Menurut Antropologi (Koentjaraningrat,
2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa,
tindakan, serta karya yang dihasilkan
manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Sekolah merupakan
lembaga utama yang didesain untuk
memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21). Setiap
sekolah memiliki budaya sekolah yang
berbeda dan mempunyai pengalaman yang
tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan
adanya “keunikan” dalam dinamika budaya
sekolah.
Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon
sekolah terhadap perubahan kebijakan
pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik
yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah
dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan
sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74).
Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur
sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan
mereka sebagai warga suatu masyarakat.
Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu
kultur dominan dan sejumlah kultur
lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai disepakati secara luas di sekolah, sejumlah
kelompok memiliki kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan
nilai nilai. Keadaan ini tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai subordinasi itu tidak sejalan
atau bahkan bertentangan dengan
membangun suatu masyarakat sekolah pro belajar atau membangun sekolah yang bermutu.
Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi
suatu sekolah yang terbentuk dari hasil
mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara
individu sekolah (Aan Komariah, 2006 :
121).
B. Karakteristik
Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu
sekolah, kinerja di sekolah dan mutu
kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional.
Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa
kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan
warga sekolah berfungsi secara optimal,
bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus
berkembang.
Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya
diakibatkan oleh dampak keterkaitan
kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Kultur
sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan
bahkan mengubah sistem asumsi yang ada,
walaupun ini sangat sulit dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya
dalam kehidupan sekolah yang berjalan
secara terus menerus yang dapat merubah
pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun
dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang
positif.
menurut Jumadi (2006: 4-5) Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan netral. Penjelasannya
sebagai berikut :
Jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas
sekolah, ada tiga jenis kultur sekolah :
1) Kultur yang positif, adalah kegiatan-kegiatan
yang mendukung (pro) peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya kerjasama dalam
mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, dan komitmen terhadap
belajar.
2) Kultur sekolah negatif, adalah
kegiatan-kegiatan yang kontra peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya siswa takut berbuat salah, siswa takut
bertanya/mengemukakan pendapat, siswa jarang melakukan kerjasama dalam
memecahkan masalah.
3) Kultur sekolah yang netral di antaranya
adalah: acara arisan keluarga sekolah, seragam guru, dll.
C. Identifikasi Kultur Sekolah
Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan
Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan
gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat
diamati dan sebagian tidak teramati
seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita,
upacara-upacara, ritus-ritus, simbol,
logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati
langsung, dan hal-hal yang berada di
balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama budaya berupa
norma-norma kelompok atau cara-cara
tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut
artifak. Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang
dianut kelompok berhubungan dengan apa
yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak dapat diamati karena terletak di dalam
kehidupan bersama.
Beberapa hal yang dapat diidentifikasikan
sebagai kultur sekolah, misalnya:
1. Artifak
a. Dapat diamati seperti: arsitektur, tata ruang,
eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan,
cerita-cerita, upacaraupacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera,
gambar-gambar, tandatanda, sopan santun, cara berpakaian.
b. Tak dapat diamati: berupa norma-norma kelompok atau cara-cara
tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.
2. Nilai-nilai dan keyakinan
Nilai dan keyakinan yang ada di sekolah dan
menjadi ciri utama sekolah, misalnya: ungkapan Rajin Pangkal Pandai; Air Beriak
Tanda Tak Dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain.
Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih
terlibat dalam upaya membentuk sekolah
yang tanggap terhadap kebutuhan yang
muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak
hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga
memperhatikan masalah politis, kultural,
dan perubahan sosial yang berlangsung (Starratt,
J Robbert, 2007: 13).
Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus
memberi perhatian terhadap aspek
informal, aspek simbolik, dan aspek yang
tak tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah.
Tugas kepala sekolah adalah menciptakan
atau membentuk dan mendukung kultur yang
diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah.
Menurut Cunningham & Gresno, 1995
apabila sikap ini timbul dan didukung
oleh kultur, semua aspek lain akan berjalan beriringan. Oleh karena itu, pembangunan
kultur merupakan kunci kesuksesan
organisasi (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 13).
Kepala sekolah berusaha keras untuk
menciptakan kultur kolaboratif di
kalangan komunitas sekolah termasuk guru, staf siswa, orang tua, dan komite sekolah. dalam hal itu,
ia melakukan koordinasi dengan mereka
dalam membuat keputusan dan mengimplementasikan program-program (Raihani, 2010: 135).
Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan
kultur sekolah harus dapat mejadi contoh
dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figur yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah,
jujur dalam kata dan perbuatan, dan
selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai pendapat orang lain.
Selain itu, kepala sekolah merupakan
model bagi warga sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 11).
D. Memotret
Kultur Sekolah
Memotret kultur sekolah dapat dilakukan dengan
menggunakan instrumen:
a. Pedoman wawancara
b. Lembar
observasi
c. Dokumen
d. Kuesioner
Sumber
data dapat berasal dari:
a. Kepala sekolah
b. Guru
c. Staf TU
d. Siswa
e. Komite sekolah
f.
Satpam
g. Penjaga sepeda
h. Penyelenggara kantin sekolah
i.
dan
lain-lain
Untuk memperoleh data yang dikehendaki,
berpedoman pada 4 (empat) macam instrument, yang meliputi:
a. Kuesioner
untuk siswa, untuk
mengungkap aspek Kultur Non-Akademik, Kultur Akademik, Ungkapan Terbuka
(Akademik dan Sosial).
b. Kuesioner
untuk guru, untuk mengungkap interaksi kepala
sekolah dengan guru, interaksi guru dengan guru, interaksi wali kelas/guru dengan orang tua, dan interaksi guru dengan
siswa.
c. Kuesioner
untuk kepala sekolah, untuk
mengungkap interaksi kepala sekolah dengan komite sekolah, komunikasi sekolah
dengan orang tua, interaksi kepala sekolah dengan staf tata usaha.
d. Pedoman
observasi/wawancara, untuk
mengungkap artifak (material culture)
dan memotret aktivitas (behavioral culture).
E. Analisis
Hasil Pemotretan Kultur Sekolah
Setelah melakukan pemotretan terhadap kultur sekolah,
untuk memaknainya perlu melakukan analisis terhadap setiap artifak yang
ditampilkan, Oleh karena itu, semua informasi yang diperoleh dianalisis secara
bersama-sama.
Contoh:
a. Nilai-nilai (values): mutu akademik yang baik
menjadi harapan dari setiap warga sekolah,
b. Keyakinan (beliefs): warga sekolah telah
sepakat bahwa tidak kalah dengan sekolah lain bila setiap warga sekolah mau
kerja keras
Analisis terhadap nilai dan keyakinan
masyarakat sekolah dilakukan untuk mengetahui jenis kultur sekolah (positif,
netral, atau negatif).
F. Pengembangan
Kultur Sekolah
Jenis kultur yang dikembangkan hendaknya yang
memiliki karakteristik:
a.
Bernilai
strategis, hasilnya akan mengimbas ke aspek-aspek lain dari kehidupan sekolah .
b.
Memiliki daya
ungkit (leverage effect) yang kuat sehingga mendukung aktualisasi visi/misi.
c.
Berpeluang
sukses, hal ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa keberhasilan (sense of
success) dan rasa mampu menyelesaikan tugas dengan baik (sense of
efficacy).
Beberapa nilai yang direkomendasikan untuk
dikembangkan di sekolah meliputi :
1)
Nilai-nilai
terkait prestasi/kualitas, misalnya:
a. Semangat membaca dan mencari referensi.
b. Keterampilan siswa dalam mengkritisi data dan
memecahkan masalah hidup .
c. Kecerdasan emosional siswa.
d. Keterampilan komunikasi siswa baik secara
lisan maupun tertulis.
e. Kemampuan siswa untuk berfikir obyektif dan
sistematis.
2)
Nilai-nilai
terkait kehidupan sosial, seperti:
a. Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan
b. Nilai-nilai keterbukaan
c. Nilai-nilai kejujuran
d. Nilai-nilai semangat hidup
e. Nilai-nilai semangat belajar
f.
Nilai-nilai
menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain
g. Nilai-nilai untuk selalu menghargai orang
lain
h. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan
i.
Nilai-nilai untuk
selalu bersikap dan prasangka positif
j.
Nilai-nilai
disiplin diri
k. Nilai-nilai tanggung jawab
l.
Nilai-nilai
kebersamaan
Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6)
Keberhasilan pengembangan kultur sekolah
dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang
dapat dilihat antara lain : adanya rasa
kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin,
adanya motivasi untuk berprestasi,
adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas, dan sebagainya.
G.
Sistematika Proposal Pengembangan Kultur
Sekolah
a. Judul
b. Rasional
c. Tujuan Kegiatan
d. Hasil yang Diharapkan
e. Rincian Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
f.
Rencana
Anggaran
Sumber :
·
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131808327/pengabdian/1pengembangan-kultur-sekolah.pdf
·
https://eprints.uny.ac.id/7779/3/BAB%202%20-%2008110241018.pdf
Komentar
Posting Komentar